PISAU

Dahulu kala, pisau merupakan senjata andalan untuk mempertahankan diri. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini, pisau menjadi perhiasan atau kadang hanya digunakan untuk membantu mempermudah pekerjaan. Apa yang menarik dengan kita berbincang masalah pisau? Alkisah, ada seorang yang kaya raya, hartanya berlimpah, apapun bisa dia beli. Suatu saat, saudagar tersebut tertarik terhadap pedagang yang menawarkan peralatan rumah tangga. Ternyata, barang dagangannya sangat bervariasi, mulai dari yang harganya murah sampai yang melambung. Pilihannya jatuh kepada dua buah pisau yang sangat bagus, dan tentu saja tidak terkira harganya. Transaksi pun terjadi, sang saudagar membawa pulang dua buah pisau, bergagang putih dan satunya bergagang hitam. Pisau istimewa tersebut dia taruh di almari kaca, dengan kilauan cahaya selalu memancar manakala sinar menerpanya. Pada suatu malam, keluarga saudagar mengadakan musyawarah, bahwa esok hari akan menyembelih ayam sebagai ungkapan kegembiraan, tahun ini rezeqinya tetep lancar. Mendengar hal itu, pisau bergagang putih berusaha untuk menutupi ketajamannya dengan cara membalikkan punggungnya, dengan harapan dia tidak terpilih. Dia merasa, masa !!!???, pisau mahal dan bagus begini hanya untuk menyembelih seekor ayam. Harapan pisau bergagang putih menjadi kenyataan, sang saudagar ternyata mengambil pisau bergagang hitam. Hari terus berganti, sampai waktunya, sang saudagar ingin merayakan kembali keberhasilan bisnisnya, mengundang keluarga besar dan menyembelih seekor kambing. Pikiran pisau bergagang putih kembali mengatakan: ah… ini belum saatnya, toh hanya seekor kambing, biarkan pisau bergagang hitam yang digunakan. Pagi buta, sang saudagar kembali mengambil pisau bergagang hitam untuk memulai menyembelih dan menguliti kambing. Bahkan pisau bergagang hitam digunakan juga untuk memotong buah, sayuran dan segala kebutuhan saat itu. Sore hari, suara lantang terdengar, istri saudagar menyuruh pembatunya untuk membersihkan dan menanjamkan pisau sebelum dikembalikan ke almari. Pada akhirnya, saudagar ingin merayakan perkawinan emasnya. Tidak hanya keluarga besar, tetapi tetangga, kenalan dan rekan bisnis akan diundang. Pesta besar akan dilakukan selama dua hari dua malam. Tentu saja, tidak cukup dengan ayam dan kambing, bahkan sapi pun tidak hanya satu ekor. Musyawarah persiapan pesta emas pun terdengar oleh pisau bergagang putih. Dia bergumam: “inilah saatnya bagi saya untuk unjuk kebolehan”. Hari-H yang ditunggu akhirnya datang, persiapan pesta dilakukan, beberapa ekor sapi siap untuk dikurbankan. Sang saudagar mengarah menuju almari, tangannya menangkap erat pisau bergagang hitam. Dia berpikiran bahwa untuk mematahkan leher sapi dibutuhkan pisau yang tidak sembarangan, supaya sekali tebas, sapi langsung menemui ajal. Pilihannya jatuh kepada si gagang hitam sebab selama ini, sebelum kembali ke almari, istri saudagar selalu memerintahkan untuk menajamkannya. Pesta pun telah usai, semua peralatan juga telah kembali ke tempat semula. Sang saudagar memandangi pisau hitam yang selama ini ikut menyukseskan setiap acara yang dilakukan. Tidak terkecuali, tatapan mata saudagar tertuju kepada si gagang putih, nampak kotor, berkarat karena tidak pernah digunakan. Tanpa pikir panjang, daripada merusak pandangan, diambil dan akhirnya dibuang. Saudaraku…………….. apa yang bisa kita ambil dari cerita ini? Kesempatan dan waktu tidak bisa kita tabung. Apa yang ada di depan kita, harus dilakukan dengan semaksimal dan sekuat tenaga. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi kalau kita mau mengerjakan dan menekuni apa yang ada, suatu saat nanti pasti akan memetik hasilnya. Jangan tunda tuk esok tetapi kerjakan saat ini juga. Selamat berkerja, semoga esok lebih bahagia.


-- Download PISAU as PDF --


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>